Total Tayangan Laman

Minggu, 24 Oktober 2010

Pembesaran Ikan bandeng (Chanos chanos Forskal )

NDAHULLatar Belakang
   Ikan bandeng (Chanos chanos Forskal ) merupakan salah satu jenis ikan air payau  yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Jenis Ikan ini sudah dikenal oleh masyarakat luas karena merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki nilai gizi yang cukup tinggi serta ditunjang dengan rasanya yang enak dan memiliki kandungan kolesterol yang rendah sehingga aman untuk kesehatan. Pengolahan produk ikan bandeng yang semakin meningkat pada saat ini, seperti bandeng presto yang semua tulang dan durinya menjadi lunak, yang menyebabkan meningkatnya jumlah yang mengkonsumsi ikan bandeng, sehingga permintaan pasar akan ikan bandeng  akhir-akhir ini terus meningkat. Kondisi ini memberikan peluang kepada pembudidaya untuk mengembangkan usaha budidaya bandeng (Chanos chanos Forskal) di seluruh wilayah Indonesia yang berpotensi sehingga dapat memenuhi ketersediaan pasokan ikan bandeng.
Untuk memenuhi kebutuhan ikan bandeng yang terus meningkat dan berkesinambungan hanya dapat dilakukan melalui pengembangan budidaya. Dengan terus berkembangnya teknologi pembenihan ikan bandeng, memungkinkan teknologi pembesaran ikan bandeng dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, sehingga tidak menjadi kendala dalam teknologi pembesarannya.

Klasifikasi Ikan Bandeng
secara taksonomi bandeng dapat diklasifiksasikan sebagai berikut:
 Class                    : Pisces
 Sub Class             : Teleostei
 Ordo                      : Copterygii
 Family                   : Chanidae
 Genus                   : Chanos
 Spesies                : Chanos chanos Forskal

Morfologi Ikan Bandeng
Ikan bandeng di Indonesia dikenal juga dengan nama Bandang, Bolu, Muloh, dan Agam, tetapi dalam perdagangan internasional ikan bandeng dikenal dengan sebutan Milk fish.
Ikan bandeng memiliki ciri khas yaitu bentuk badan yang langsing berbentuk torpedo, sirip ekor bercabang (tanda ikan perenang cepat), berwarna keperak-perakan, mulut terletak di ujung kepala dengan rahang tanpa gigi, lubang hidung terletak di depan mata, mata diselimuti selaput bening (subcutaneous). Panjang badan di laut dapat mencapai 1 meter tetapi dalam tambak panjangnya tidak lebih dari 50 cm. Hal ini disebabkan karena pengaruh keterbatasan ruang gerak, dan karena sengaja dipanen sebelum menjadi dewasa.
Proses Pembesaran Ikan Bandeng
Dalam usaha pembesaran pada hakekatnya merupakan pengelolaan lanjutan dari kegiatan penggelondongan yang dilakukan dengan menggunakan metode budidaya dengan tujuan meningkatkan produksi tambak. Metode budidaya yang dapat dilakukan antara lain yaitu metode budidaya bandeng secara tradisional yang disempurnakan, metode progresif, metode modular, dan metode penebaran berganda. Dari keseluruhan metode tersebut inti kegiatan budidayanya sama yaitu meliputi perbaikan dan persiapan tambak, penebaran ikan, perawatan selama pemeliharaan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pemberian pakan tambahan, dan mempertahankan kualitas air agar tetap layak.
1.    Pemilihan Lokasi
Lokasi tambak budidaya ikan bandeng yang dipilih mempunyai persyaratan antara lain:
a.  Lahan mendapatkan air pasang surut air laut. Tinggi pasang surut yang ideal adalah 1,5 – 2,5 m. Pada lokasi yang pasang surutnya lebih rendah dibawah 1 meter maka pengelolaan air menggunakan pompa.
b.   Tersedia air tawar untuk mengatur kadar garam yang sesuai bagi pertumbuhan ikan bandeng.
c.   Tekstur tanah yang ideal adalah liat berpasir, karena tanah ini dapat menahan air dengan baik.
d.   Lokasi ideal terdapat sabuk hijau (green belt) yang ditumbuhi hutan mangrove dengan panjang minimal 100 m dari garis pantai.
e.   Keadaan sosial ekonomi mendukung operasional budidaya seperti keamanan yang kondusif.
2.    Persiapan Tambak
Persiapan lahan adalah proses penyiapan lahan tambak mulai pengeringan lahan sampai siap ditebar benih untuk pembesaran ikan bandeng. Persiapan tambak sangat menentukan keberhasilan budidaya. Tahapan Persiapan tambak adalah sebagai berikut:
a.  Perbaikan sarana dan Prasarana
Memperbaiki secara menyeluruh mulai pintu air, pematang, caren, saringan, saluran pemasukan, saluran pengeluaran dan peralatan lainnya seperti pompa air, jala lingkar (untuk sampling pertumbuhan ikan).
b.  Pengeringan Lahan
Lama pengeringan tergantung cuaca dan kondisi tanah. Tanah yang mempunyai ketebalan lumpur dalam membutuhkan waktu lebih dari 3 minggu sedangkan tanah liat berpasir membutuhkan waktu cukup 10 hari. Tujuan pengeringan ini adalah mempercepat penguapan gas racun-racun, memberantas hama penyakit, mempercepat proses penguraian dan menaikan pH tanah.
c.   Pengangkatan Lumpur
Endapan lumpur sisa pemeliharaan periode sebelumnya berwarna hitam dan terletak ditengah tambak atau didekat pintu pengeluaran. Lumpur ini banyak mengandung bahan organik dan gas-gas beracun seperti asam sulfida sehingga lumpur ini perlu diangkat. Endapan lumpur diangkat kepermukaan tanggul.
d.  Pengapuran Tanah
Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan pH tanah serta membunuh bakteri pathogen yang ada dan organisme hama. Kapur yang digunakan untuk pekerjaan ini adalah kapur pertanian (CaCO3). Dosis yang digunakan tergantung pada kondisi pH tanah. Semakin rendah pH tanah maka kebutuhan kapur untuk pengapuran semakin banyak.
e.  Pemupukan
Dalam pemeliharaan ikan bandeng penyediaan makanannya dapat berupa makanan alami dan makanan buatan. Jenis makanan alami ditambak dapat berupa klekap, lumut, plankton, dan organisme dasar atau benthos. Namun demikian jarang sekali semua jenis tersebut dapat hidup dan tumbuh dalam tempat dan waktu yang bersamaan. Hal ini tergantung dari keadaan kualitas tanah dan air serta kedalaman air ditambak.
Dalam penumbuhan pakan alami tersebut mempunyai tatacara yang berbeda tergantung dari jenis pakan alami yang diinginkan. Sehubungan dengan hal tersebut kebutuhan jenis pupuk yang digunakan untuk proses penumbuhannya pun berbeda. Untuk penumbuhan klekap yang merupakan kumpulan jasad renik yang disusun oleh algae biru, benthos, diatom, bakteria, dan organisme renik hewani, diperlukan pupuk organik seperti dedak halus, bungkil kelapa, kotoran sapi, kotoran kerbau, dan kotoran ayam.
Jumlah pupuk yang digunakan tergantung dari kesuburan tanah tersebut, pada umumnya dosis pupuk organik berupa dedak halus diperlukan 500-1000 kg/ha, bungkil kelapa diperlukan 500-1000 kg/ha, kotoran kerbau/sapi 1000-3000kg/ha, kotoran ayam jumlah pupuk organik yang diperlukan 500 kg/ha.
Penggunaan pupuk anorganik dalam penumbuhan klekap terdiri dari pupuk Urea dan TSP yang digunakan dengan perbandingan 2:1. Dosis pupuk urea adalah 100 kg/ha dan TSP 50 kg/ha. Aplikasi pupuk anorganik dilakukan setelah didahului oleh pemasukan air tahap pertama setinggi 5-10 cm dan dikeringkan kembali. Pada pemasukan air berikutnya dilakukan dengan ketinggian 10-15 cm yang selanjutnya dilakukan penebaran pupuk anorganik sesuai dengan dosis tersebut. Penggunaan pupuk organik dilakukan dengan cara diletakan pada beberapa tempat dibagian tambak secara merata sebelum dilakukan pemasukan air tahap pertama.
Untuk penumbuhan pakan alami jenis lumut yang komposisi utamanya adalah alga hijau berfilamen diperlukan kedalaman air antara 40-60 cm. Kisaran kadar garam yang diperlukan untuk penumbuhan lumut adalah 25 promil atau lebih. Jenis lumut yang umum tumbuh ditambak adalah lumut sutera (Chaetomorpha sp), dan lumut perut ayam (Enteromorpha sp). Jenis algae hijau filamen lainnya juga merupakan jenis lumut adalah Cladophora sp. dan Vaucheria sp.
f.   Pengisian Air Sebelum Tebar
Pada saat terjadi pasang naik cukup tinggi air dimasukan kedalam tambak setelah melalui saringan di pintu air pemasukan (inlet). Ketinggian air dipelataran tambak lebih kurang 10 cm. Kemudian pintu air pemasukan ditutup dan air dalam tambak dibiarkan selama tiga hari, dengan tujuan untuk memperbaiki struktur tanah agar berada pada kondisi baik untuk pertumbuhan pakan alami. Pada saat pemasukan air berikutnya dilakukan penggunaan Saponin (tea seed) untuk pemberantasan hama yang ada di dalam tambak dan untuk merangsang pertumbuhan phytoplankton. Setelah diberi saponin, tambak dibiarkan hingga    5-7 hari. Setelah diyakini bahwa berbagai hama di dalam tambak telah mati, maka pengisian air kembali dilakukan. Pada tahap ini ketinggian air dipelataran cukup 10 cm dan dibiarkan selama 3 hari untuk dilakukan pemupukan dasar. Kemudian setelah pemupukan dilakukan penambahan air pada tambak dilakukan secara bertahap sesuai dengan pertumbuhan pakan alami (klekap). Pada ketinggian air 40 cm dari pelataran tambak maka air tambak dipertahankan untuk persiapan penebaran benih ikan.
3.    Persiapan Benih
Dalam persiapan benih ikan bandeng yang akan ditanam dalam proses pembesaran terdapat beberapa tahapan kegiatan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
a.    Kegiatan Peneneran
Kegiatan peneneran adalah pemeliharaan benih ikan bandeng dari ukuran nener hingga mencapai ukuran 5-7 cm. Ukuran benih ikan ini sudah dapat digunakan pada kegiatan penggelondongan. Luas tambak untuk kegiatan peneneran relatif lebih kecil dan biasa dikenal dengan sebutan baby box. Perbandingan luas petak peneneran, penggelondongan, dan pembesaran adalah 1:9:90. lama pemeliharaan dipetak peneneran berkisar 30-45 hari tergantung pada kondisi pakan alami dan ukuran ikan.
b.    Kegiatan Penggelondongan
Kegiatan penggelondongan adalah lanjutan pemeliharan benih dari ukuran gelondongan kecil (pre-fingerling) hingga mencapai ukuran gelondongan. Kegiatan penggelondongan ini dilakukan kurang lebih selama 30 hari atau pada saat ukuran berat ikan antara 3-5 gr/ekor. Setelah kegiatan penggelondongan baru benih ikan bandeng dapat dipelihara di petak pembesaran.
4.    Penebaran Benih
Faktor-faktor penebaran benih yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut (Mudjiman, 1988):
a.    Padat Tebar
Benih ikan bandeng yang ditebar dipetak pembesaran untuk menghasilkan ikan ukuran konsumsi disesuaikan dengan metode pembesaran ikan bandeng yang dilaksanakan. Untuk metode tradisional yang disempurnakan padat tebarnya adalah 2-3 ekor/ m2. Lama pemeliharaan pada pembesaran ikan bandeng dengan metode tradisional yang disempurnakan adalah 4 bulan.
b.    Waktu Penebaran
Penebaran benih bandeng harus segera dilaksanakan setelah petakan tambak siap untuk pemeliharaan. Warna air tambak terlihat kehijauan oleh plankton. Keterlambatan penebaran akan memberikan peluang hama dan penyakit berkembang didalamnya. Waktu penebaran dilakukan sore hari atau menjelang matahari terbenam pukul 16.00-18.00 atau pagi hari sebelum matahari terbit sampai pukul 07.30 karena pada waktu ini kondisi fluktuasi suhu tidak mencolok, parameter air dan lingkungan tidak banyak berubah.
c.       Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah proses penyesuaian biota yang dipelihara dengan lingkungan baru yang akan digunakan untuk budidaya ikan. Melalaui proses adaptasi ini secara fisiologi dan kebiasaan hidupnya secara perlahan-lahan disesuaikan dengan lingkungan barunya. Dalam kegiatan aklimatisasi sebelumnya telah disediakan petakan khusus yaitu petakan yang sangat sempit yang dibuat hanya untuk sementara dalam kegiatan aklimatisasi atau penyesuaian benih pada tambak. Ukuran petak ini disesuaikan dengan banyaknya benih yang akan ditebarkan. Petakan ini dibuat di dekat pintu air dan dibatasi oleh pematang yang sempit (kecil). Diatas pematang dibangun atap yang terbuat dari gedek bambu yang dilapisi dengan plastik atau dari daun kelapa (welit). Kegunaan atap ini adalah sebagai pelindung bagi benih dari sengatan sinar matahari yang kuat dan hujan, karena air hujan yang langsung mengalir kepetak aklimatisasi dapat menyebabkan kematian pada benih. Petak aklimatisasi ini diperlukan baik pada musim kemarau maupun pada musim hujan.
5.    Pemberian Pakan
Pakan merupakan komponen penting karena mempengaruhi pertumbuhan ikan, lingkungan budidaya serta memiliki dampak fisiologis dan ekonomis. Kelebihan pemberian pakan akan menyebabkan bahan organik yang mengendap terlalu banyak sehingga akan menurunkan kualitas air demikian juga kekurangan pakan akan menyebabkan pertumbuhan ikan turun dan tubuhnya lemah sehingga daya tahan terhadap penyakit menurun. Pakan disebarkan secara merata ke dalam tambak.
 Jenis pakan yang diberikan adalah pakan buatan dan pakan alami. Pakan buatan berbentuk pellet dengan berbagai ukuran yang disesuaikan dengan ukuran (size) ikan. Kandungan nutrisi yang dibutuhkan dalam pakan ikan bandeng (Chanos chanos Forskal) antara lain protein, karbohidrat, lemak, asam lemak, vitamin serta mineral. Pakan hidup adalah organisme hidup dalam tambak yang berfungsi sebagai pakan ikan. Pada umumnya jenis pakan ini adalah plankton. Fungsi plankton disamping sebagai pakan alami bagi ikan adalah penghasil oksigen dalam air.
6.    Monitoring Pertumbuhan
Monitoring pertumbuhan dimaksudkan untuk mengetahui pertumbuhan dalam petakan tambak secara individu, populasi dan biomas yang dilakukan secara periodik. Pengamatan pertumbuhan dilakukan dalam pengambilan contoh (sampel) dan pemeriksaan ikan dengan dilakukan penjalaan (Jala tebar). Untuk mengamati respon ikan terhadap pakan serta kesehatan ikan dapat diamati menggunakan anco, sedangkan pengamatan pertumbuhan dan kelangsungan hidup dilakukan pengamatan langsung berupa jumlah yang mati. Data yang terkumpul selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan jumlah pakan yang akan diberikan.
Monitoring pertumbuhan ini digunakan untuk menentukan jumlah pakan, infeksi hama penyakit serta waktu panen yang tepat. Pengambilan sampel atau sampling dilakukan tidak hanya pada satu titik tambak, atau hanya pada sisi tambak dimana ikan sering diberi pakan, tetapi harus dilakukan pada lima titik tambak, yaitu bagian tengah tambak dan empat titik yang lainnya yaitu empat sudut pada tambak. Hal ini bertujuan agar sampling atau pengambilan sampel yang dilakukan dapat benar-benar mewakili organisme yang dibudidayakan di tambak secara akurat.
7.    Perawatan Tambak Selama pembesaran
Untuk keberhasilan usaha pembesaran bandeng maka perlu dilakukan perawatan dengan baik selama pemeliharaan. Perawatan tersebut meliputi pengaturan air, perawatan pintu dan pematang, pemupukan susulan serta pemberian pakan tambahan.
a.    Pengaturan Air
Selama pemeliharaan, kualitas dan kedalaman air harus diperhatikan, sehingga benih dapat hidup dengan layak. Pergantian air yang teratur mempunyai keuntungan dalam menjaga kualitas air tetap baik. Selain itu, unsur hara dan organisme makanan benih ikan bandeng dapat disuplai ke tambak. Bila air tambak tidak pernah atau jarang diganti, akan menyebabkan terakumulasinya bahan beracun di tambak dan itu sangat berbahaya bagi kehidupan benih. Pergantian air dilakukan secara teratur bersamaan dengan adanya air pasang. Caranya adalah dengan mengeluarkan setengah atau sepertiga bagian air tambak sebelum terjadi air pasang, kemudian diganti dengan air pasang yang baru sampai ketinggian air semula.
Pada saat setelah terjadi hujan, maka air di tambak perlu segera diganti, karena air hujan akan mengencerkan salinitas. Hal ini dapat membahayakan kehidupan ikan yang sedang dipelihara. Kemudian juga untuk menjaga salinitasnya agar tetap stabil dan baik (payau) diperlukan juga sumber air tawar, sumber air tawar bisa diperoleh dari air sungai.
b.    Perawatan Pintu dan Pematang
Untuk menunjang keberhasilan pemeliharaan benih, pematang dan pintu tambak harus selalu diperiksa dan dirawat dengan baik. Maksud perawatan ini adalah untuk mencegah terjadinya kebocoran atau rembesan air dari dalam tambak serta mencegah hilangnya benih. Demikian pula saringan di pintu tambak harus dibersihkan dengan sikat, untuk memudahkan dalam pertukaran air.
c.    Pemupukan Susulan
Sebelum kondisi makanan alami di tambak menipis (habis), segera dilakukan pemupukan susulan. Pemupukan ini dimaksudkan untuk mensuplai unsur hara kedalam tambak, sehingga dapat menunjang pertumbuhan makanan alami. Jumlah pupuk yang diberikan tergantung dari kesuburan makanan alami yang ada. Sebagai patokan dapat digunakan pupuk Urea dan TSP dengan dosis masing-masing 10 kg/ha. Dapat juga ditambah dedak halus sebanyak 100 kg/ha. Selain sebagai pupuk, dedak halus juga berfungsi sebagai makanan tambahan.
Mudjiman juga mengatakan bahwa pemupukan sebaiknya dilakukan pada saat ada air pasang. Hal ini di maksudkan bila hasil pemupukan berpengaruh kurang baik terhadap kualitas air (seperti terjadi blooming), maka dengan segera dapat dilakukan pertukaran air. Pemupukan tidak boleh dilakukan pada saat akan turun hujan, karena air hujan dapat mengencerkan hasil pemupukan tersebut. Selain itu dalam melakukan pemupukan, pelataran tidak boleh diinjak-injak, karena akan merusak klekap yang tumbuh
d.    Makanan Tambahan
Pemberian makanan tambahan dilakukan apabila keadaan makanan alami sudah tidak dapat lagi menunjang pertumbuhan bandeng yang dipelihara. Jenis makanan buatan yang digunakan adalah pelet. Jumlah makanan yang diberikan kira-kira 5% dari berat total tubuh per hari. Pemberian makanan dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.
8.    Pengamatan Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit yang sering mengganggu kegiatan budidaya ikan bandeng adalah sebagai berikut:
a.    Jenis-jenis hama berupa:
1)    Ikan pemangsa seperti Kakap, Kerong-kerong, Payus, Bulan-bulan dan jenis ikan penyaing seperti Tilapia, dan Belanak.
2)    Ketam/kepiting, Belut, Tonang, yang merupakan hama yang sering membuat lubang dan merusak pematang pada tambak.
3)    Ular air dan Burung seperti, Pucuk ikan, Bangau, dan lainnya, sebagai pemangsa yang sering mengancam kehidupan ikan dalam kegiatan budidaya di tambak.
Selain itu perlu diperhatikan pengontrolan tambak secara terus-menerus yaitu mengurangi atau membasmi organisme pengganggu atau pemakan bentik yang tumbuh di sekitar tambak. Larva chironomid, cacing polychaete, dan siput yang merupakan sumber penyakit. Penggunaan kapur dan urea pada saat persiapan tambak akan membasmi organisme tersebut.
b.    Metode Pengandalian Hama
Ada 2 metode pengendalian hama yaitu :
1.    Secara fisik dan
2.    Secara kimiawi

Secara fisik antara lain dengan cara :
a)    Pengeringan dasar tambak
b)    Pemasangan saringan pada pintu air
c)    Pemasangan perangkap
d)    Pemasangan tali-tali tidak berwarna (nylon) yang direntangkan di atas tambak untuk mencegah burung pemangsa.
Secara kimiawi, dengan jalan memilih jenis pestisida dan dosis penggunaan berdasarkan macam hama. Dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis pestisida dan dosis penggunaan berdasarkan jenis hama
No
Jenis Hama
Pestisida
Dosis efektif



(bahan total)



Per hektar
1
Berbagai jenis
Ikan liar
Bungkil biji teh
      (bahan aktif saponin)
15-20 kg
Rotenon (tepung)
3-5 kg
Akar tuba
7-10 kg
2
Trisipan (sumpil)
Brestan 60 G
0,5 kg
Basudin 60 EC
0,5 lt
Sumition 50 EC
0,1 lt
Diazinon 60 EC
0,1 lt
Brantasan (bubuk)
0,3 kg
3
Larva chironomid
Sumition 50 EC
0,1 lt
4
Kepiting
Sevin (bubuk)
2 kg


c.    Cara Pemakaian Pestisida
1)    Bungkil biji teh ditumbuk hingga halus (bubuk), kemudian direndam dalam air selama semalam. Disebar merata ke dalam tambak.
2)    Bubuk rotenon dicampur dengan air secukupnya, kemudian disebar merata ke dalam tambak.
3)    Akar tuba ditumbuk hingga halus (bubuk), direndam dalam air selama satu malam, kemudian diambil ekstraknya dan disebarkan merata kedalam tambak.
4)    Brestan dicampur air secukupnya, kemudian disebar merata ke dalam tambak. Setelah aplikasi tambak harus direklamasi (genangi tambak dengan air laut atau payau selama 1 malam, lalu kuras)
5)    Sevin, dengan membuat umpan dari ikan rucah yang dilumuri dengan bubuk sevin, kemudian ditaruh disekitar lubang kepiting (pada saat pemeliharaan) atau disebar merata pada saat persiapan tambak (tambak berair sekitar 10 cm) dan setelah aplikasi tambak perlu dicuci. 

d.    Penyakit pada Bandeng
Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulan gangguan pada ikan, sehingga dapat menimbulan kerugian dalam bereproduksi. Timbulnya penyakit pada ikan disebabkan oleh ketidakserasian antara 3 faktor, yaitu kondisi lingkungan, kondisi ikan itu sendiri, dan organisme patogen.
Jenis penyakit yang pernah dilaporkan yang menyerang ikan bandeng adalah:
1)    Sisik atau kulit kotor penyakit ini disebabkan oleh Caligus Sp dan Piscicolla Sp, gejalanya yaitu nafsu makan ikan berkurang, susunan sisik rusak, ikan terlihat malas.
2)    Sirip ekor patah dan rusak penyakit ini disebabkan oleh Fiorrot disease
9.    Pemanenan
Setelah ikan bandeng mencapai ukuran konsumsi, maka dilakukan pemanenan. Panen dapat dilakukan secara bertahap (selektif) maupun secara total.
a.    Panen Bertahap
Panen bandeng secara bertahap dapat dilakukan dengan metode menyerang air atau yang dikenal dengan sebutan ngerocok. Hal ini sesuai dengan sifat bandeng yang selalu menentang arus (aliran air). Caranya adalah pada saat surut air tambak dikeluarkan sebagian. Kemudian pada saat terjadi pasang yang cukup tinggi, air baru dimasukan ke tambak melalui pintu air yang ditutup dengan saringan kasar, ikan bandeng akan segera menyongsong datangnya air baru tersebut. Dengan demikian, ikan akan terkumpul dalam petak penangkapan (catching pond). Selanjutnya ikan tersebut ditangkap dengan menggunakan jaring.
b.    Panen Total
Pada umumnya panen bandeng secara total dilakukan dengan cara pengeringan tambak. Caranya adalah air dalam tambak dikeluarkan secara perlahan-lahan sampai air yang ada didalam tambak hanya mengisi bagian pada caren saja. Ikan bandeng akan berkumpul di caren tersebut. Pemanenan dapat dilakukan dengan alat berupa jaring yang ditarik (diseret) sepanjang caren. Dapat juga menggunakan kerai bambu yang didorong sepanjang caren oleh beberapa orang. Dengan kerai ini, ikan dikumpulkan disuatu tempat tertentu yang luasnya terbatas (sempit). Selanjutnya dilakukan penangkapan dengan alat tanggok (scoop net).
Pemasaran
Pemasaran merupakan lanjutan aktivitas pasca panen yang menentukan harga. Tinggi rendahnya harga di tingkat petani pembudidaya ikan bandeng seringkali merupakan manipulasi dari pedagang pengumpul atau perantara untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
   Harga sangat dipengaruhi oleh tingkat permintaan dari konsumen dan penawaran dari produsen yang efektif, pasok uang harga, barang subtitusi, faktor musim, margin pemasaran, pola distribusi, kebijaksanaan harga dan harga tingkat umum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar